--Ketika HIDUP memberiku seribu alasan untuk MENYERAH,,,engkau HADIR memberiku sejuta alasan untuk BERJUANg--
--when life gave me a thousand reasons to give up, you're present to give a milios reasons to fight--

Senin, 04 April 2011

Kisah Sang Tikus

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk
mengamati sang petani dan istrinya,
saat membuka sebuah bungkusan. Ada
mainan pikirnya. Tapi dia terkejut sekali,
ternyata bungkusan itu berisi perangkap
tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi
peringatan, “Awas ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati ada
perangkap tikus di dalam rumah !” Sang ayam dengan tenang berkokok
dan sambil tetap menggaruki tanah,
mengangkat kepalanya dan berkata.
‘Ya, maafkan aku Pak Tikus. Aku tahu memang ini masalah besar bagi kamu,
tapi buat aku secara pribadi tidak ada
masalah. Jadi jangan buat aku sakit
kepala lah. ” Tikus berbalik dan pergi menuju sang
kambing. Katanya, “Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah
perangkap tikus di dalam rumah !” ‘Wah aku menyesal dengan kabar ini.” Si kambing menghibur dengan penuh simpati. “Tetapi tidak ada sesuatu pun yang bisa kulakukan
kecuali berdo ’a. Yakinlah, kamu senantiasa ada dalam do’a- do’aku !” Tikus kemudian berbelok menuju si
lembu.
‘Oh! Sebuah perangkap tikus ?” jadi saya dalam bahaya besar ya ?” kata lembu sambil ketawa, berteleran air liur. Jadi tikus itu kembalilah ke rumah
dengan kepala tertunduk dan merasa
begitu patah hati, kesal dan sedih,
terpaksa menghadapi perangkap tikus
itu sendirian. Ia merasa sungguh-
sungguh sendiri. Malam tiba, dan terdengar suara
bergema di seluruh rumah, seperti bunyi
perangkap tikus yang berjaya
menagkap mangsa. Istri petani berlari
melihat apa saja yang terperangkap. Di
dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu adalah seekor
ular berbisa. Ular itu sempat mematok
tangan istri petani itu. Petani iktu
bergegas membawanya ke rumah sakit. Si istri kembali ke rumah dengan tubuh
mungil, demam. Dan sudah menjadi
kebiasaan, setiap orang sakit demam,
obat pertama adalah memberikan sup
ayam segar yang hangat. Petani itupun
mengasah pisaunya, dan pergi ke kandang, ,mencari ayam untuk bahan
supnya. Tapi, bisa itu sungguh jahat, si istri tak
kunjung sembuh. Banyak tetangg yang
datang membesuk dan tamupun tumpah
ruah ke rumahnya. Iapun harus
menyiapkan makanan, dan terpaksa
kambing di kandang itu dijadikan gulai. Tapi itu tidak cukup, bisa itu tak dapat
taklukan. Si istri mati, dan berpulh orang
datang untuk mengurus pemakaman,
juga selamatan. Tak ada cara lain, lembu
di kandang itupun dijadikan panganan
untuk puluhan rakyat dan peserta selamatan, Kawan, apabila kamu dengar ada
seseorang yang menghadapi masalah
dan kamu pikir itu masalah itu tidak ada
kaitannya dengan kamu, ingatlah
bahwa apabila ada “perangkap tikus ” di dalam rumah, seluruh “ladang pertanian” ikut menanggung resikonya. Sikap mementingkan diri
sendiri lebih banyak keburukan
daripada kebaikanya.

BAGIKAN KE: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar